Di sini aku ingin berbagi cerita tentang betapa aku menyukai dunia komedi. Bagiku, membuat orang tertawa memiliki kebahagiaan tersendiri. Karena itu, sebisa mungkin aku ingin membuat orang lain tertawa.
Aku mulai mengenal stand-up comedy dari televisi. Jujur, sekarang aku tidak terlalu ingat siapa saja komika yang dulu sering tampil. Yang masih kuingat mungkin Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Pandji Pragiwaksono yang cukup sering muncul di TV. Kompas TV menjadi salah satu saluran favoritku saat itu, karena selain menayangkan stand-up comedy, aku juga sering menonton berita di sana.
Ketika stand-up comedy mulai merambah ke YouTube, aku jadi semakin sering menontonnya. Ada satu momen yang masih kuingat: suatu malam aku tertawa terbahak-bahak melihat penampilan Pandji, padahal ibuku sedang tidur di sampingku. Itu sekitar tahun 2020–2021, ketika aku sedang menjalani gap year dan cukup sering menonton cuplikan stand-up comedy dari hasil scroll YouTube.
Terakhir kali aku rutin menonton stand-up comedy adalah pada Februari 2025, ketika aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah karena sakit. Saat itu Stand Up Comedy Indonesia (SUCI) di Kompas TV sudah memasuki season 11. Aku tidak mengikuti dari awal, hanya menonton semifinal dan final karena tidak ingin ketinggalan siapa pemenangnya. Menurutku, juara pertama memang pantas menang karena terlihat sangat kuat dalam menulis materi. Juara kedua unggul dalam gimmick, sementara juara ketiga dikenal konsisten dengan impersonasi karyawan BUMN. Setelah itu, aku tidak terlalu mengikuti stand-up comedy lagi — mungkin hanya sesekali lewat FYP.
Pada akhir Desember 2025, aku kembali menonton stand-up comedy Mens Rea di Netflix. Saat itu penampilan Pandji cukup trending dan banyak dibahas di berbagai media, mungkin karena materinya yang jurang. Sepertinya Pandji juga sudah memahami risiko dari materi yang dibawakannya. Namun, dengan kesempatan tampil di Netflix dan jangkauan penonton yang jauh lebih luas, semua itu terasa sebanding. Aku tertawa dengan guyonan politiknya, meskipun ada beberapa bit yang kurang kusukai.
Saat menonton stand-up comedy lagi, aku juga teringat bahwa aku pernah mencoba “stand-up” di depan teman-teman. Jangan bayangkan tampil profesional dengan mikrofon di atas panggung, melainkan sekadar menyelipkan guyonan ketika menjadi pembicara dalam diskusi organisasi. Aku sempat memasukkan sedikit humor politik. Entah apa yang aku pikirkan saat itu. Tapi ketika aku menyusun materinya, aku tidak merasa bersalah. hahahha. aku suka saat orang tertawa dengan jokes-ku yang tidak seberapa ini.
Tahukah kamu bahwa komedi juga memiliki teorinya sendiri?
Jadi, tidak perlu takut merasa tidak bisa berkomedi, karena humor ternyata bisa dipelajari.
Aku menyadari hal itu ketika menonton video di YouTube. Di sana, Gracia JKT48, Haruka (mantan JKT48), Kiki Mantan Coboy Junior, Kenzo, dan Jirayut belajar komedi dari Pandji sebagai mentor mereka.
Memang tidak banyak yang kuingat dari materi yang mereka pelajari, tetapi salah satu yang cukup membekas adalah konsep tentang “dua kata lucu”. Intinya, kelucuan sering muncul ketika kata terakhir terasa “patah” atau tidak terduga dari ekspektasi pendengar. Pergeseran makna di bagian akhir itulah yang memancing tawa. Sederhana, tetapi ternyata cukup efektif untuk membangun humor.
Berikut beberapa contoh jokes dua kata yang memanfaatkan keanehan kombinasi kata:
-
Dokter Tikus
-
Rambut Pizza
-
Mobil Sabun
-
Bola Hujan
-
Kucing Terbang
Botak keramas
Kelucuannya muncul karena otak kita mencoba mencari hubungan logis antara dua kata yang sebenarnya tidak berkaitan. Ketika kata kedua terasa “mematahkan” ekspektasi, di situlah humor muncul. Humor jenis ini sederhana, absurd, dan mengandalkan imajinasi pendengar. Tertarik buat belajar komedi?
