![]() |
| Foto aku rapat dengan dinas perumahan Sleman pas magang |
Kutulis ini sebagai bentuk keprihatinanku terhadap apa yang terjadi di sekitarku. Aku sedih melihat anak-anak kecil bekerja meraih rezeki. Tetapi sekarang aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Tak kusangka, realitas pekerja anak kutemui di sekitarku. Selama ini aku hanya pernah melihatnya di negara Vietnam dari vlog youtuber, di Sapa terekam anak-anak yang harus bekerja di malam hari. Harus joget, di hari malam yang dingin.
Memang kusadari aku jarang keluar rumah. Aku jarang memperhatikan dan mengamati keadaan di jalanan. Hanya saja, kemarin setelah lamanya aku jalan-jalan dengan temanku di SCH. Maaf ya dek kalau waktu itu aku belum bisa bantu. Aku akan menceritakan apa yang terjadi waktu itu. Waktu itu aku sangat kelaparan, jadi harus makan. Aku hanya fokus dengan makanan mie ku. Sehingga, waktu itu aku berpikir, kalau kau menjatuhkan mainan bukan makanan yang dijual. Ya waktu itu di lapangan denggung anak-anak kecil sedang bermain, jadi tidak mungkin anak kecil jual makanan. Maaf belum bisa bantu.
Padahal aku membawa uang 5000 cash. Seharusnya bisa aku belanjakan. Tetapi karena untuk uang parkir, di SCH untuk jaga-jaga. Jadi aku lebih memilih tidak kubelanjakan. Aku harap semoga kau baik-baik saja, sehat selalu, jadi orang yang sukses.
Ya itulah realita teman-teman, apa yang terjadi di Sleman, kota yang sekarang sudah semakin ramai. Banyak pendatang di Sleman, salah satunya banyak mahasiswa di sini. Banyak orang-orang yang pintar. Banyak segudang prestasi yang ada sleman. Aku mau meneliti Sleman tidak boleh karena sudah maju. Kata dosenku. Hampir tiap kecamatan adalah kecamatan pusat pertumbuhan, jadinya ditolak deh.
Tetapi Sleman juga masih punya banyak PR yang harus dibereskan. Salah satunya mungkin bagaimana cara menuntaskan kemiskinan dan pengangguran. Sangat diapresiasi Sleman punya sleman pintar salah satu cara untuk membantu kemiskinan dan pengangguran. Kalau hanya mengandalkan KIP Kuliah dari pemerintah pusat jelas tidak akan sepenuhnya menolong, karena tidak semua akan tercover. Tapi dengan adanya program sleman pintar membuat anak-anak miskin punya harapan untuk menjadi penolong bagi keluargnya. Ada jalan lain untuk tidak terkurung dalam kemiskinan dengan cara lewat pendidikan. Hanya dari pendidikan lah, bisa mempunyai pekerjaan yang oke, punya akses bagaimana cara bisa keluar dari kemiskinan itu, pikiran jadi terbuka, menjadi sehat dan sebagainya.
Tapi untuk menuntaskan pekerja anak di Sleman, bagaimana caranya? saya belum terlalu banyak meninjau literatur fenoma ini. Jadi belum bisa berkomentar banyak.
.jpeg)